Klik NTB - Berita Indonesia Hari Ini | Untuk Pemasangan Iklan Hubungi 081915618200

Aitha : Harga Bawang Anjlok, Bupati Bima Minim Ide untuk Sejahterakan Petani

Kapolda NTB Bersama HMI Meninjau Multiplier Effect Perhelatan WSBK Terhadap Pembangunan NTB
November 16, 2021

KLIKNTB.COM, Kota Bima – Petani sempat kepung Pemerintah Daerah Bima dinilai Minim ide guna mensejahterakan petani

Ditengah krisis ekonomi yg diterpa oleh dampak covid19, Indonesia adalah salah satu negara yang krisis terhadap pendapatan ekonomi khususnya pada rakyat kelas bawah.

Senada yang di sampaikan oleh Aitha Kurniawati selaku ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Mataram bahwa Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah salah satu provinsi yang dikenal akan tempat wisata yang banyak dan Kaya akan sumber hasil pertaniannya.

“kedua nya adalah sumber dari pendapatan ekonomi daerah ditengah pandemic covid19, ucap Aita Kurniawati pada awak media ini, Jum’at (19/11).

Lebih lanjut dikatan, ditengah kondisi NTB yang populer dikancah nasional dan internasional lewat Adanya WSBK ” seharusnya pemerintah daerah atau provinsi harus mampu melirik segala persoalan rakyat pada umumnya lebih khususnya soal para petani” tegas Ketua LMND Mataram ini.

Lanjutnya lagi,  Di NTB khususnya Kabupaten Bima adalah salah satu daerah yang mayoritasnya petani dan pendapatan ekonominya hanya bersumber pada hasil pertanian ” Maka jika terjadi anjloknya harga petani, maka jeritan rakyat pasti akan terdengar dimana-mana” tuturnya.

Dapat dilihat di daerah Bima ucap Aitha, bahwa ribuan massa petani yang melakukan aksi demonstrasi hari Kamis 18 November 2021 menuntut persoalan petani.

” Adapun beberapa tuntutan yang selalu disuarakan yaitu soal anjloknya harga hasil petani dan Harga pupuk yg tidak sesuai dengan HET” jelasnya

Lebih jelas ia katakan bahwa Soal petani bukanlah soal momentum, akan tetapi persoalan petani dari dulu sampai sekarang tidak pernah mampu diselesaikan dari tahun ketahun ” bahkan ditiap adanya waktu saat panen hasil pertanian” ucapnya miris

“Contohnya persoalan bawang khususnya di daerah bima, terlihat betul adanya keluhan petani bahwa ketika pada saat panen hasil pertanian mengalami harga yg sangat menurun atau anjlok dan tidak sesuai dengan PP no 89 tahun 2020 tentang aturan penetapan harga panen petani” sambungnya

Tidak hanya itu, ungkap Aitha bahwa Selain anjloknya harga panen petani, juga adanya persoalan harga pupuk yang tidak sesuai dengan Harga HET yang diatur dalam UU KEMENTAN NO. 49 tahun 2020 tentang alokasi dan standar harga pupuk subsidi.

“Dari persoalan petani yang biasa kita ketahui, dari anjloknya harga bawang, naiknya harga pupuk tidak sesuai dengan Het dan kadang kala pestisida naik pada saat musim bawang dan lainnya” terangnya

Ia juga mengatakan hal yangseperti ini yang harus di lirik bersama ” bentuk kepedulian Pemda harus jelas terhadap jeritan petani. Soal anjloknya harga pada saat panen, Pemda harus mampu menetapkan hasil pertanian, Kemudian Pemda harus hadir sebagai Jembatan untuk menjawab segala persoalan rakyat khususnya persoalan petani bawang merah yang ada diwilayah Bima” pungkasnya

Lebih jelas terkait Solusi dalam menjawab persoalan anjlok harga bawang merah, Ketua Eksekutif Kota Mataram Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (Aita Kurniawati) mendorong BUMD untuk menyerap hasil pertanian petani, agar di olah langsung oleh BUMD dalam bentuk kemasan dengan kata lain industrialisasi bawang merah di kabupaten bima harus ada, tegasnya.

“Selama inikan petani kita menjual mentah hasil pertaniannya, kenapa tidak pemda Bima, menjadikan BUMD untuk serap hasil pertanian lalu diolah dalam bentuk kemasan,  Menyurati Presiden atau Kementerian Pertanian itu bukan solusi, seharusnya Bupati Bima harus mendorong BUMD untuk serap hasil pertanian petani, itu akan menjadi nilai lebih petani dan meningkatkan pendapatan asli Daerah (PAD) dan juga akan mengurangi angka pengangguran di kabupaten Bima”, jelasnya.

Ia juga yakin jika Bupati Bima punya keinginan untuk menyelamatkan dan sejahterakan petani.  maka kata aita segera dorong BUMD untuk menyerap hasil pertanian petani untuk mengelola dan memproduksi hasil pertanian  dalam bentuk barang jadi (kemasan) Kabupaten Bima akan maju petaninya akan sejahtera.

“Contohnya begini ya, bawang goreng atau kacang tanah ya, kacang tanah itu 10 biji bernilai Rp. 2000. Jadi, pertanyaan apa yang membuat kacang tanah itu mahal? sederhananya begitu solusi yang kita tawarkan” tutupnya.(klik)

Pasang Iklan