Klik NTB - Berita Indonesia Hari Ini | Untuk Pemasangan Iklan Hubungi 081915618200

Petani Keluhkan Pupuk Bersubsidi Digandeng Non Subsidi

Pedagang Keluhkan Suplai Kurang Takaran Minyak Goreng Curah Dari BUMN Pangan, Achmad Hafiz: Evaluasi Kinerja Direksi dan Komisarisnya
April 20, 2022
Tolak Gandengan, Pengecer Ancam Kembalikan Pupuk Bersubsidi ke Pemerintah Pusat
Mei 23, 2022

KLIKNTB.COM, Lombok Timur – Dengan diharuskannya menebus pupuk bersubsidi dengan cara di gandeng dengan pupuk nonsubsidi membuat petani Didesa Pandan Wangi, Kecamatan Jerowaru kecewa. Hal tersebut disampaikan ketua kelompok tani Sahnun asal Dusun Kerong, Desa Pandan Wangi, Kecamatan Jerowaru pada hari Jum’at (20/05) melalui telpon.

Dari pengakuannya, waktu-waktu sebelumnya, penebusan pupuk bersubsidi oleh petani ke pengcer berdasarkan RDKK (rencana definitif kebutuhan kelompok) tidak pernah di gandeng dengan pupuk nonsubsidi, namun kali ini petani terkesan dipaksakan untuk mengambil pupuk subsidi dengan gandengannya.

“Padahal sebelumnya, saat kepala dinas pertanian sering melakukan blusukan ke setiap pengcer, tidak ada Pengecer yang menggandeng pupuk bersubsidi dengan pupuk non subsidi, tapi kali ini Pengecer memberikan syarat itu” tuturnya.

Dengan syarat itu menurutnya petani terpaksa menambah persedian penebusan pupuk bersubsidi seperti urea yang semula harganya 250.000 rupiah per-kuintal menjadi 390.000 rupiah per-kuintal, karena di gandeng dengan pupuk nonsubsidi seberat 10 kilo gram setiap Satu kuintal pupuk bersubsidi dengan patokan harga jual 140.000 rupiah.

Peraturan ini-pun sempat ia (Sahnun) tanyakan ke pengecer, namun di jawab kalau aturan tersebut di buat oleh distributor. Sehingga aturan tersebut pengecer-pun melakukan hal yang sama ke petani, “saya juga menebus di distributor dengan cara di gandeng” Tutur Sahnun mengulang pengakuan Pengecer.

Mestinya, kata sahnun, petani diberikan menebus pupuk bersubsidi sesuai jatah yang tertera di RDKK tampa harus di gandeng dengan pupuk nonsubsidi, karena ia yakin kalau pupuk nonsubsidi akan dibeli juga oleh petani apabila masih membutuhkan pupuk.

“Kalau petani tidak cukup dengan pupuk bersubsidi itu, pasti akan membeli pupuk yang nonsubsidi, jadi, tidak perlu pakai digandeng-gandeng segala” jelasnya.

Dikonfirmasi mengenai keluhan masyarakat terebut, oknum Pengecer Pupuk dikecamatan jerowaru, Mujah menuturkan via telpon, pada hari Jum”at (20/05), mengenai pupuk bersubsidi yang di gandeng dengan pupuk nonsubsidi itu sifatnya minta tololong.

“Karena dari distributor bahasanya seperti itu jadi saya juga minta tolong ke petani”tuturnya.

Istilah “gandeng” itu juga menurutnya datang dari petani dan lebih nyaman memakai istilah “minta tolong” , “dalam hal tersebut lebih tepatnya kami minta tolong, agar pupuk nonsubsidi juga terjual” kilahnya.

Ia juga membeberkan mengenai jatah pupuk bersubsidi yang didapat petani tidak pernah sesuai dengan RDKK, “seperti pupuk urea subsidi, dalam penebusannya petani hanya dapatkan 70% dari jumlah yang ada di RDKK, mestinya itu ditanyakan oleh teman-teman yang pintar-pintar ini kemana arahnya yang 30% itu ” tutupnya.(klik)

Pasang Iklan